“Hamid, jangan risau. Nom[1]
Marjuno tidak mungkin salah hitung!”
“Biarlah aku yang bicara sama Toan[2]
Haji Fudali!”
Hamid tak menggubris celoteh teman sekelasnya itu, meski
sudah menepuk pundaknya berkali-kali. Hamid seperti hilang dari raganya. Matanya
menerawang jauh. Singgah di pucuk-pucuk imaji yang tak seorang pun tahu. Matanya
kosong. Matanya bolong.
Kedua anak itu duduk di lereng bukit. Tak jauh dari rumah
gedeknya, seraya melempar pandang ke Selat Madura yang menghampar. Mereka
gundah diserang masalah.
“Bicaralah, Hamid!”
Hamid masih saja diam, dan hanya sesekali menyedot bongkahan
oksigen di depannya.
“Biarlah aku yang bicara sama Toan[2]
Haji Fudali!”
Hamid bergeming, lalu meletakkan kepalanya yang berat pada kedua lututnya.
“Jangan menangis-lah, Mid. Kita adalah anak laut yang hebat.
Kita keturunan orang-orang perkasa, Mid!”
Hamid kembali tegak. Dadanya menghempas napas. Matanya
nanar memandang laut lepas. Laut dan gelombang memantul ke dalam jiwanya.
Berkali-kali matanya mengerjap, seolah laut yang terhampar menjadi silap.
“Aku percaya penjelasan Nom Marjuno, dan aku yakin dia tak
akan pernah melakukannya!”
Hamid mengalihkan dua bola matanya pada temannya yang dari
tadi tak putus asa membesarkan hatinya yang rapuh.
“Terima kasih, Sauri!” seru Hamid, sambil berusaha sunggingkan
senyum ke wajah Sufyan Sauri, sahabat karib kecilnya yang tak pernah jemu menemani.
“Nah, begitu dong! Itu namanya senyum anak laut!” Seru
Sauri, menyemangati.
“Aku kasihan pada ayah, Sauri!”
“Hanya anak durhaka yang tak belas kasih sama orang tua
sendiri,” timpal Sauri.
“Aku yakin, ayah tak salah hitung. Ayah sangat berhati-hati
dengan uang haram. Aku tahu keteguhan imannya saat menolak uang sogok para calon
kepala desa yang minta dicoblos. Ayah tolak semua pemberian itu. Rasanya, hanya ayahku yang tak tergoda
dengan uang, Sauri!” Hamid membela diri. Seluruh kesalnya meluncur begitu saja.
Sauri bangkit. Menjulur tangannya pada Hamid. Mengajaknya
berdiri menatapi gelombang laut yang tak pernah putus asa menyentuh bibir
pantai dengan deburnya yang menjulur.
“Anak laut tak boleh kalah! Kita datangi Toan Haji Fudali
sekarang juga!” Sauri mengajak Hamid menemui Tuan Haji Fudali, seorang saudagar
kaya yang rumahnya berlantai tiga.
“Sekarang?”
“Iya. Sekarang!” jawab Sauri tegas.
“Apa tak terlalu kesusu?”
“Saat kita melaut, lalu datang gelombang, apakah kita hanya
diam antara bimbang atau diterjang gelombang?” Sauri menjawab dengan sebuah
tanya yang membuat Hamid diam sejenak, sebelum akhirnya bergegas mengikuti kaki
Sauri yang melangkah mantap.
Sepanjang jalan, Sauri berbicara kepada Hamid yang menyusul
di belakangnya, “Aku masih terngiang pesan guru Ahyar Hafiduddin, bahwa hanya
anak laut yang bisa menjadi gelombang. Saudagar kaya tak perlu ditakuti. Anak
laut tak takut pada karang!’
“Sebentar, Sauri!” Hamid buru-buru mencegat, seraya
tangannya memegang pundak sahabatnya itu.
“Takut!” tanya Sauri, sambil menghentikan langkahnya.
“Bukan itu masalahnya. Tapi, aku tak ingin hubungan
persaudaraan dengan Toan Haji Fudali berantakan? Kamu kan tau sendiri,
keluargaku masih ada hubungan famili dengan Toan Haji, dan baru akur setelah
berebut tanah sengketa di lereng bukit itu!” Hamid berseru-seru.
“Mid, Toan Haji tak pernah menganggap ayahmu sebagai
saudara. Kalau dia masih menganggapmu sebagai saudara, tidak mungkin ayahmu
dituduh mengurangi hitungan derigen air itu.
Sauri kembali melangkah. Diikuti Hamid yang masih kalut,
kalau-kalau Toan Hajai Fudali akan mendampratnya habis-habisan.
“Sauri! Sauri!” Hamid memanggil.
Sauri tak menghiraukan panggilannya. Niat bulatnya untuk
menjelaskan perihal tuduhan Toan Haji Fudali terhadap ayah sahabatnya kian
menguat. Sauri menjadi sangat tidak terima ketika orang tua Hamid dituduh
sebagai penipu.
Setelah memanggil salam, Sauri yang dibuntuti Hamid segera
menemui Toan Haji Fudali yang lagi duduk membaca koran di beranda rumahnya.
“Tidak mungkin saya salah hitung. Saya belum pikun!” kata
Toan Fudali, setelah mendengar penjelasan Sauri.
Hamid menimpali dengan suara bergetar karena menahan marah
yang hendak meluap, “Tak mungkin ayah melakukan itu!”
“Apanya tidak mungkin! Kamu masih belum tahu, siapa ayahmu!
Ayahmu mantan penjudi. Salat saja baru kemarin sore!”
Muka Hamid merah padam. Tangannya mengepal-ngepal serupa hendak
membokem muka Toan Haji Fudali yang matanya mulai mendelik-delik karena
dikomplen anak seusia jagung. Demikian juga dangan Sauri.
“Toan Haji tahu, siapa saya?” balas Sauri dengan emosi
mencuat di ubun-ubunnya. Tatakramanya hilang ditelan emosinya yang membara.
“Kurang ajar!” Toan Haji Fudali tiba-tiba menamparkan
buntalan koran tepat ke pelipis Sauri.
Anak yang masih kelas tiga Madrasah Aliyah itu spontan
berdiri dan hendak melayangkan bokem mentah ke wajahnya Toan Haji Fudali.
Namun, Hamid mencegahnya dan segera menggamit tangannya meninggalkan Toan Haji Fudali.
“Lepaskan, Mid!”
“Pulang, Sauri!”
“Kulaporkan ke polisi, kau!” seru Sauri sambil menuding Toan
Haji Fudali yang berkacak pinggang.
“Sudahlah!” seru Hamid.
Hamid terus bergegas sambil menyeret-nyeret tangan Sauri
menyusuri jalan setapak menuju tempat biasa mereka memandangi laut. Lambat-laun
emosi Sauri mereda serupa hamparan selat yang tenang sore itu.
“Kau tak perlu ikut campur. Ini urusanku!” seru Hamid.
“Tapi Mid, aku sudah menganggap Nom Marjuna sebagai ayah
sendiri. Pengganti ayahku yang ditelan laut,” jawab Sauri dengan suara
bergetar.
Hamid diam. Perasaannya berarak pada satu titik rasa iba
pada diri Sauri yang tinggal sebatang kara dengan emaknya.
“Sebaiknya kita temui Ustaz Ahyar. Kita minta bantuannya supaya
berbicara pada Toan Haji, agar tak menuduh ayah sebagai penipu.”
“Bukan itu yang membuatku tak terima Mid! Tapi, omongan Toan
Haji yang menebar fitnah, yang membuatku muntap! Sudah berhaji dua kali masih suka
pesong!” sahut Sauri dengan suara geram.
“Setelah salat Maghrib kita ke rumah ustaz,” sekali lagi,
Hamid mengajak Sauri yang masih kerasukan kesal tak berkesudahan.
Setelah salat Maghrib berjamaah, mereka tergopoh menuju
rumah ustaz Ahyar, seorang guru ngaji yang cukup disegani masyarakat pulau
Giliraja. Mereka hendak mengadukan perkara yang mereka hadapi.
“Begitu ceritanya, Ustaz ....”
Ustaz Ahyar, guru ngaji mereka sejak kecil menghela napas,
sebelum akhirnya memberikan nasihat kepada keduanya.
“Saya juga minta Pak Marjuno ngisi jeding di sini. Tapi,
tak pernah ada masalah!” jawab Ustaz Ahyar.
“Itulah sebabnya, saya minta bantuan Ustaz untuk
menjelaskan pada Toan Haji,” sambung Sauri dengan suara sedikit gemetar.
“Tapi sudahlah! Ikhlaskan saja. Bukankah bapakmu sendiri
lebih memilih mengalah, Mid?”
Hamid diam. Hatinya membenarkan perkataan ustaznya. Demikian
juga dengan Sauri yang lebih mengikuti gelora darah mudanya.
“Pak Marjuno itu, orangnya sabar. Patut dicontoh!”
“Tapi, saya malu Ustaz! Saya malu ayah dituduh penipu!”
Hamid angkat bicara. Darahnya masih mendidih.
“Sabar Mid! Jangan sampai terjadi keributan. Maafkan Toan
Haji yang khilaf itu!”
“Saya tidak suka dengan kesombongannya, Ustaz?”
“Tak hanya kalian yang tidak suka dengan orang sombong! Allah
juga demikian. Tapi, menghadapi semua itu, kita harus sabar. Saya ingin
murid-murid saya menjadi rahmatalil alamin! Balaslah kejahatan dengan
kabaikan!” Ustaz Ahyar makin panjang memberi nasihat.
Keduanya menunduk. Mereka harus menelan dendamnya mentah-mentah
pada keangkuhan Toan Haji Fudali, si kaya raya yang mereka anggap durjana.
Sejenak suasana hening. Kesunyian yang mencekam di benak
Abdul Hamid dan Sufyan Sauri cukup untuk menekuri pesan guru ngajinya.
“Sudah lama sama saya gelisah dengan tuan-tuan tanah yang
hartanya berlimpah dan diternakkan! Kaum haji yang berkali-kali ke tanah suci,
malah semakin buta hati! Cukuplah mereka yang sesat. Bukan kalian,
anak-anakku!”
“Ustaz, maafkan saya!” seru Sauri, diikuti Hamid yang
langsung menyalami Ustaz Ahyar yang mulai lanjut usia itu.
“Hamid dan Sauri, boleh saya minta tolong?” katanya pelan.
“Dengan senang hati, Ustaz ....”
“Saya minta tolong mengantarkan surat ini?”
Hamid ikut membaca tujuan surat yang diterima Sauri dari
guru ngajinya.
“Kalian pernah ke kota, kan?” tanya gurunya.
Keduanya menggeleng sambil menatap cengang ke wajah Ustaz
Ahyar yang baru saja selesai menyeruput kopinya.
“Tapi, kalian sanggup ...?” tanya Ustaz Ahyar sekali lagi.
“Insya Allah, Ustaz?” jawab mereka.
“Pamit dulu sama bapak dan ibumu. Jangan bilang sanggup
dulu!” pesan gurunya.
“Baiklah, Ustaz ...! Kalau besok dapat izin, kami akan
berangkat!”
“Tak usah khawatir. Ongkosnya sudah ditanggung.”
“Terima kasih Ustaz, saya pamit dulu.”
Keduanya beranjak, seraya mencium tangan guru ngajinya itu.
“Lupakan Haji Fudali,” pesan Ustaz Ahyar sambil mengantar
kedua muridnya hingga di teras rumahnya.
Begitulah cara Ustaz Ahyar mengalihkan perhatian kedua
muridnya itu. Ia memberinya pekerjaan lain, agar segera hilang dendam yang
membentang di benaknya.
***
Pagi-pagi sekali, kedua anak kampung itu berlabuh dengan
perahu kayu yang disewa Ustaz Ahyar. Mereka menuju kota Sumenep. Sebuah daratan
yang dipenuhi mobil-mobil dan gedung bertingkat, dan kota yang gemerlap. Kedua
anak itu membawa sepucuk surat yang dimandat dari gurunya yang dihormat.
Perahu merapat di dermaga Cangkarman. Tempat semua perahu
dari pulau Giliraja menambatkan jangkarnya. Kedua utusan Ustaz Ahyar segera
melompat ke undak-undakan kesong yang menjulur ke laut. Ujung celana
mereka sedikit basah terkena tempias ujung ombak yang tak berhenti meradang.
Segerombolan awan hitam yang dari tadi menggantung di ujung
pandang mereka, mulai gerimis. Buru-buru mereka berteduh di sebuah warung makan
di pinggir pantai, tempat biasanya para penumpang melepas gamang.
“Seperti petunjuk ustaz, kita segera naik mini bus
jurusan kota, dan berhenti di terminal lama,” seru Hamid.
“Kita tak tahu, minibus seperti apa? Begitu juga
rupanya terminalnya!”
“Nanti kita tanya. Ayo!” ajak Hamid
“Tidakkah menunggu gerimis reda?” protes Sauri.
“Gerimis macam ini lama redanya. Ayolah!” Hamid segera
beranjak. Mendaki lorong sempit yang menanjak ke jalan raya.
Sauri menggerutu sambil mengibas-ngibaskan gerimis yang
menimpa bajunya, “Rupanya di sini sering hujan. Tapi, kenapa hujan seperti
enggan datang ke pulau? Ah! Ternyata, Tuhan ...!”
“Jangan teruskan, nanti malah murtad!” cegat Hamid.
“Lalu?” protes Sauri.
“Hujan enggan turun di pulau, karena takut sama orang macam
Toan Haji Fudali. Kamu sudah tahu, orang pulau sudah banyak yang pesong,
apalagi kaum rentenir itu!” Hamid menjawab dengan setengah emosi. Kenangan
buruk soal Toan Haji Fudali tidak serta-merta hilang begitu saja.
Mereka terus berdebat tentang hujan yang tak kunjung
datang. Tentang hujan yang menjadi rahmat. Tentang hujjah Tuhan di dalam ayat.
Ketika Hamid tersudut dengan hujjah Sauri tetang pembalakan
liar dan gundulnya hutan yang disulap menjadi lahan tambak garam, Hamid
menyitir ayat Tuhan yang termaktub dalam kitab sucinya.
“Aku kira al-“Araf 96 menjadi kunci jawaban yang tepat!”
Hamid menutup perdebatan ketika tiba di tepi jalan.
Di tepi jalan, mereka menanti minibus seperti yang
ditunjukkan orang kepada mereka, hingga akhirnya sebuah tumpangan—yang tanpa
mereka stop—berhenti di depannya.
“Sumenep?” tanya si kernet menawar jasanya.
Tanpa banyak cincong, mereka segera naik. Sepanjang jalan,
mereka terus memerhatikan kaca minibus yang diserang gerimis yang semakin lama
menjelma hujan deras.
“Kota diguyur hujan lebat!” celetuk Sauri setengah
berbisik.
“Kalau saja setiap musiam hujan, pulau diguyur seperti ini,
aku rasa air sumur tak akan kering. Ayah tak akan menjadi kuli air! Tak akan
berseteru dengan Toan Haji Fudali,” Hamid membalas seruannya.
Sambil mengobral kata, keduanya terus menyusuri jarum jam
yang tak berhenti berdetak. Mereka menyewa becak yang bertebaran pada setiap
lekuk kota, hingga akhirnya tiba di depan sebuah pintu kaca tebal sambil
melihat bayangannya sendiri yang kuyup oleh deras hujan yang menciprat, sebelum
akhirnya mereka memutuskan untuk membuka pintu itu.
“Open to Door.”
Kalimat penunjuk meyakinkan kedua anak laut itu. Dan,
seorang resepsionis yang ramah memberi ruang duduk sambil menunggu satu
keputusan penting yang diajukan oleh surat itu.
“Tunggulah di sini, barang lima belas menit,”
“Iya, Mbak ...!” Hamid menjawab sambil menggigil menahan
dentuman air hujan yang menyelinap.
“Sepertinya bertambah dingin! Kalau saja pulau sedingin
ini, sumur-sumur akan memancarkan air dan kita tak perlu setiap hari mengangkut
air dari sumur beringin itu!” Sauri berceloteh sambil bersedekap menahan gigil.
Melihat pemandangan yang tak nyaman itu, resepsionis
mempersilakan mereka istirahan di Musalla di belakang kantor.
Sambil berjalan, Hamid dan Sauri tak berhenti memuji
bangunan kota, “Besar sekali kantor Perhutani ini!”
“Mungkin hanya lantai tiga milik Toan Haji Fudali yang
sedikit menandingi,” Hamid menimpali.
“Tapi, Mid! Kenapa kita disuruh menunggu. Bukankah Ustaz
tak menyuruh kita menunggu?”
“Tunggu saja. Siapa tahu, kita akan dikasih ongkos pulang!”
Ketika mereka lama berbincang tatanan kota yang dilihat
sepanjang jalan menuju kantor itu, seorang perempuan dengan lantun suara santun
memintanya segera mempersiapkan diri, karena mobil pick up akan segera
berangkat.
“Rupanya kita akan diantar. Ayo cepat!” Hamid berseru-seru
sambil mengemasi bajunya yang dijemur disebuah gantungan baju.
Mobil yang mereka tumpangi melaju menuju dermaga
Cangkarman. Seorang sopir kantor yang ditugasi mengatar mereka, memberi
penjelasan tentang tentumbuhan tunas yang dibawanya.
“Jadi, ini toh isi surat yang kuantar?” tanya Hamid padi
sopir.
“Memangnya belum dikasih tahu?”
“Belum!”
“Hem ...!” si sopir hanya manggut-manggut mendengar
pengakuan polos Hamid dan Sauri.
“Untuk apa tunas-tunas pohon jati itu?” Tanya Sauri,
penasaran.
“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab si sopir, menambah
tanda tanya keduanya.
Hamid dan Sauri harus menelan rasa ingin tahunya. Seribu
tunas pohon jati yang dimuat di atas pick up itu telah membuatnya buntu
mendapat jawab. Mereka hanya mampu menerka-nerka untuk apa gerangan tunas-tunas
itu? Bahkan, sepanjang perahu mendebur ombak, keduanya hanya kuasa menafsirkan
keinginan guru ngajinya yang hendak membuat hutan jati di belakang pekarangan
rumahnya. Itu pun hanya mampu berspekulasi mentah yang tidak memungkinkan
tafsirnya benar, karena tunas-tunas macam itu tak mungkin hidup di tanah
kerontang yang sekarat mata airnya.
Sejam menempuh laut, pelabuhan menyambut. Murid-murid Ustaz
Ahyar dengan sepeda ontelnya mengangkut dengan semangat. Mata penduduk
sepanjang jalan nanar menatap jalang. Serupa pendengki yang menertawakan
kelakuan Hamid dan Sauri yang hanya mengantar tunas-tunas itu menjadi mayat.
“Ustaz, hendak diapakan tunas-tunas itu? Soalnya tadi,
penduduk mencibir kelakuan kami!”
“Nanti mereka akan capek sendiri. Saya sudah tak ambil
pusing dengan kelakuan umat yang sudah bebal dengan nasihat!” sahut Ustaz
Ahyar, sambil meletakkan tunas-tunas pohon jati berjajar di halaman musalanya.
Hamid dan Sauri hanya mengangguk, meski kurang mengerti
tujuan guru ngajinya yang ganjil. Tanpa kenal lelah, Hamid dan Sauri ikut
menata tunas-tunas pohon jati itu.
“Ini namanya jati emas. Sangat mahal kalau sudah tumbuh
besar nanti,” terang Ustaz Ahyar pada Hamid dan Sauri yang masih buta.
“Apa mungkin akan hidup di tanah gersang, Ustaz?”
“Jangankan tumbuhan macam ini, tongkat di tanam akan
bertunas, Mid!” lanjutnya, “negeri ini subur, gembur. Tak ada yang tandus asal
kita tahu cara mengelolanya! Tunas-tunas ini kelak akan menyimpan banyak persediaan
air.”
Keduanya hanya manggut-manggut mendengar penjelasan guru
ngajinya. Lalu diam-diam membenarkan, bahwa pepohonan bisa menyimpan banyak
persediaan air. Pelajaran itu pernah mereka dengar dari materi reboisasi di
sekolahnya. Kini keduanya mengerti, bahwa ustaznya tengah melakukan reboisasi
besar-besaran.
“Besok, seratu tunas kamu tanam di sekeliling sumurmu.
Seratus tunas akan saya tanam di sumur dekat surau. Kalau ada tanah kosong,
kalian bisa membuat hutan.”
“Membuat hutan, Ustaz!” seru Sauri, seperti orang yang tak
percaya.
“Iya. Membuat hutan! Agar ayah Hamid tak lagi menjadi kuli
air!”
“Rasanya, tak mungkin tunas-tunas itu hidup, Ustaz?”
“Percayalah, Mid ...! Tunas-tunas itu akan tumbuh. Di musim
penghujan ini, kita masih punya kesempatan meminta turunnya hujan. Nanti, kita
salat Istisqo’ dan yakinlah bahwa Allah tidak tuli dengan doa kita.”
Keesokan hari di sebuah lereng bukit gersang milik orang
tua Hamid, murid-murid Ustaz Ahyar menanam tunas-tunas itu. Di dekat
sumur-sumur mati, mereka juga menanaminya. Beberapa penduduk yang percaya
dengan petuah ustaz yang beranjak sepuh itu, ikut membantu. Mereka berijibaku,
dengan satu harapan air muncrat tanpa syarat.
“Hamid ...? Saya sudah menjual sepetak tanah warisan orang
tua. Uangnya saya akan berikan pada Pak Marjuno untuk mengangkut air, menyirami
tunas-tunas itu hingga hujan turun. Jangan ditolak. Tak baik menolak rezeki.”
“Iya, Ustaz ...? Insya Allah saya sampaikan pada Ayah?”
“Lusa, siarkan pada seluruh penduduk untuk salat Istisqo’.
Kita bertobat Mid ...!”
“Iya, Ustaz ...” sambil menerima uang ongkos mengangkut
air, Hamid dan Sauri segera mohon diri.
Aksi Ustaz Ahyar tersiar ke mana-mana. Cibirin dan pujian
silih berganti. Dicibir karena tak mungkin tanah tandus menghidupkan
tunas-tunas itu. Dipuji karena tindakan guru ngaji itu melampaui para pejabat
desa yang tak sempat memikirkannya.
Hari itu, perjuangan Ustaz Ahyar berlanjut dengan
mengadakan salat Istisqo’. Orang-orang yang taat ikut serta sujud dan
mengadukan perihal petaka yang sudah bertahun-tahun melandanya. Sedangkan kaum
pesaong, hanya cengigisan di pasar-pasar atau dikedai-kedai sambil menikmati
arak dan berjudi.
Setelah tiga hari berlalu. Usaha Ustaz Ahyar dan para
penduduk tak kunjung mendapat hasil. Rasa putus asa, mulai menggerayangi benak
mereka.
“Ustaz, masih belum ada tanda-tanda akan turun hujan. Ayah
tidak mungkin sanggup menyirami tunas-tunas itu terus menerus!” Seru Hamid.
“Kalau begitu, beri tahu para penduduk yang ikhlas untuk
mengangkut air!”
Hamid segera berpacu memberi tahu melalui TOA surau kepada
para penduduk untuk bahu-membahu mengangkut air. Menyirami tunas-tunas jati
emas, agar tak sekarat.
“Sauri!”
“Iya, Ustaz ...”
“Jaga tunas-tunas itu, agar kambing-kambing penduduk tak
memakannya.”
“Saya dan Hamid sudah meminta penduduk yang melombar
kambing-kambignya untuk segera mengekangnya kembali.
“Bagus kalau begitu!”
“Hamid ...?” panggil Ustaz Ahyar.
“Siarkan lagi. Besok kita akan salat Istisqo’
kembali.”
Tanpa banyak cincong, suara Hamid memantul lewat TOA.
Namun, sebelum pantulan suara Hamid lenyap, seorang penduduk datang tergopoh
menemui Ustaz Ahyar.
“Ustaz! Ustaz!” serunya.
“Ada apa?” tanya Ustaz Ahyar.
“Toan Haji Fudali dan anak buahnya mencabuti tunas-tunas
yang kita tanam!”
“Dicabuti!”
“Iya. Ustaz!”
“Sauri! Ayo kita ke sana!”
Ustaz Ahyar dan Sauri segera bergegas mendatangi sumber
petaka. Hamid yang melihat gerakan tak wajar sang ustaz segera meluncur secepat
kilat.
Di lereng bukit, tiga anak buah Toan Haji Fudali sudah
hampir separuh mencabuti bibit jati emas yang sudah ditanam.
Dari jauh, Ustaz Ahyar tergopoh mendekati Toan Haji Fudali
yang berdiri angkuh sambil menunggu orang suruhannya yang kalap mencabuti
tunas-tunas itu.
Tersengal Ustaz Ahyar ketika berujar, “Hentikan Toan Haji!
Hentikan! Kita bicarakan baik-baik! Bukan asal serabut seperti itu!”
“Ustaz! Yang main serabut itu, ya Ustaz sendiri!”
“Hentikan dulu mereka, Toan Haji! Saya ingin tahu duduk
persoalannya,” seru Ustaz Ahyar dengan sengalnya yang tak kunjung reda.
Toan Haji Fudali berkoar. Meminta anak buahnya menghentikan
aksinya. Disusul dengan pertanyaan Ustaz Ahyar yang penasaran dengan kelakuan Toan
Haji Fudali yang merusak tunas-tunas tak berdosa itu.
“Ustaz! ini tanah sengketa. Tak boleh seorang pun menjamah
tanah ini!”
“Maaf Toan Haji! Saya tak tahu-menahu soal itu. Tapi, saya
minta agar Toan Haji tak merusak tunas-tunas itu. Biarlah saya cari lahan lain
untuk menanamnya.”
“Tidak perlu dipindah, Ustaz ...,” suara Pak Marjuno muncul
di belakang Toan Haji Fudali.
Toan Haji Fudali kaget. Kepalanya segera berputar ke
belakang. Manatapi Pak Marjuno yang tangannya memegang celurit, seperti hendak
bertempur hingga darah penghabisan.
“Apa maksudmu, Marjuno!”
“Kau sudah punya tanah pengganti, yang sekarang ditempati
rumah tingkatmu!” Suara Pak Marjuno yang sudah lanjut usia itu bergetar menahan
marah yang menggelegak ke ubun-ubunnya.
“Mana bukti sertifikat tanahnya?” suara Toan Haji Fudali
juga mulai garang.
“Memang tak ada. Sebab kau tak mau menandatangani
sertifikat tanah itu!
Pertengkaran semakin memanas. Tak ada yang mau mengalah. Pak
Marjuno terus memegang celuritnya yang sudah terhunus. Sementara Toan Fudali
tak kalah gesit segera menghunus celuritnya yang terselip di pinggangnya.
Langit yang mulai mendung siang itu sepertinya akan banjir darah.
“Saya lebih baik berkalang tanah, daripada kau
menginjak-nginjak kehormatan tanah kami!” seru Pak Marjuno sambil memasang
kuda-kuda.
Ketika seteru itu mulai memuncak, awan yang tadi bergulung
berusaha menghindari sinar matahari yang melempar sengatnya ke bumi. Tak berapa
lama kemudian, rintik hujan menyertai perseteruan dua orang yang bertikai.
Hujan panas pertanda terjadinya carok. Begitu, orang Madura berkeyakinan.
Ustaz Ahyar berusaha melerai mereka, “Hentikan! Hentikan!”
Kemudian datang sepasukan orang-orang desa yang dikomando
oleh Hamid dan Sauri yang membawa golok, celurit, linggis, dan segala macam
senjata. Mereka mengepung Toan Haji Fudali dan mengejar anak buahnya.
Toan Haji Fudali kaget tak kepalang. Mukanya berubah
menjadi mayat. Anak buahnya lari terbirit-birit menghindari kejaran massa yang dipimpin
Hamid dan Sauri.
“Hentikan! Hentikan!” Ustaz Ahyar tak pupus melerai massa
yang hendak menggebuki Toan Haji Fudali yang sudah tak berdaya, “kita
selesaikan baik-baik masalah ini!”
Ustaz Ahyar berusaha meredakan amarah massa yang
dikomandani Hamid dan Sauri. Kali ini Hamid dan Sauri seperti mendapatkan momen
yang paling tepat untuk membalas sakit hatinya yang tak bisa dihapus begitu
saja.
“Hamid, beri jalan!” seru Ustaz Ahyar, sambil berusaha
melewati kerumunan massa yang terus berjubel sambil mengacung-ngacungkan
senjatanya.
Ustaz Ahyar menggamit tangan Toan Haji Fudali dan
membawanya pergi meninggalkan tanah sengketa itu.
Hujan panas semakin deras. Hamid dan Sauri lebih bersemangat
mengomando orang-orang desa menancapkan kembali tunas kehidupan di tanah
sengketa yang diganyang kaum begundal.
Sementara di rumahnya, Ustaz Ahyar mulai berbicara perlahan
pada Toan Haji Fudali yang kuyup oleh air hujan, “Jangan melawan rakyat, Toan
Haji. Lebih baik mengalah!”
Toan Haji Fudali terdiam, lalu perlahan terbata.
Mengutarakan beribu khilaf yang telah dilanggarnya, “Maafkan saya Ustaz. Saya
khilaf. Saya masih marah sama Marjuno gara-gara masalah air beberapa hari
lalu!” keluhnya.
Toan Haji! Jika tanah sengketa itu sudah selesai kasusnya, alangkah
baiknya tak diungkit kembali. Kalau seperti itu, tak akan ada lagi penduduk yang
menghormati Toan Haji. Tak akan ada lagi yang akan memanggil Haji Fudali dengan
sebutan Toan.”
Toan Haji Fudali terdiam. Pikirannya kalut. Sesal datang
bertubi di hatinya. Ustaz Ahyar menambahi, “Tunas-tunas itu dari perhutani
untuk menghidupkan kembali tanah-tanah Gili yang mati, agar penduduk tak susah
mendapatkan air mandi.”
“Saya mengerti, Ustaz!” jawab Toan Haji Fudali, “saya tak
akan melakukan mukabalah lagi!”
Tanjung Kodok Sumenep,
2014
0 Comments