Cerita ini ikut memenangkan lomba Cerpen Sastra Hijau 2014
Entah sejak kapan aku menjadi burung yang beterbangan
menembus udara. Tak ada proses ajaib serupa ulat yang bertapa untuk menjelma
kupu-kupu yang bisa terbang. Semua yang kualami menjadi tiba-tiba. Serta-merta.
Kun fayakun. Jadilah! Maka jadilah aku seperti ini: burung!
Apakah karena aku dikutuki oleh semua burung yang selama
ini dipelihara ayahku? Ataukah ini hanya peristiwa sekejap yang akan kembali seperti
sedia kala? Ah! Masih tanda tanya. Tapi, kali ini aku tak ingin memikirkannya.
Aku ikhlas, apa pun yang terjadi pada diriku. Entah aku dikutuk atau hanya
sekadar disulap. Aku tak perduli. Apa perduliku?
Aku masih merasa seperti manusia meski tubuhku burung. Aku
mengerti bahasa ibuku yang memanggil-manggil, karena aku tak kunjung datang
memenuhi teriakannya. Padahal, aku sudah bertengger di kepalanya yang dibalut
rambut uban. Tapi, ibu tak mengerti bahwa aku sudah mendatanginya. Ibu tak
mengerti bahasaku. Ibu tak paham bahwa burung di kepalanya adalah diriku.
Sekali lagi aku menggelapar, bahkan jatuh di dekat kakinya
yang sudah keriput dan berusaha mematuknya, agar mau mengerti bahwa aku sudah
datang. Andai ibu mengerti bahasaku, ia akan berhenti berteriak. Haruskah aku
mendatangkan Sulaiman agar ibu mendapat ijazah seribu bahasa?
Ketika ibu berucap, “Belikan aku kecap penyedap bumbu!” aku
segera melesat ke pasar memberikan uang seribu pada pemilik toko, lalu tanpa
basa-basi aku mengambil kecap itu. Nyonya toko terbengung melihat kelakuanku
dan bersusah payah menangkapku. Aku melejit tinggi-tinggi lalu pergi.
Aku segera datang pada ibu membawa sebungkus kecap. Ibu
tercengang melihat aku melempar kecap yang diinginkan. Matanya melotot serupa
orang kerasukan makhlus halus penunggu pohon kapuk di belakang rumah. Ah! Ibu
masih saja tak mau mengerti, bahwa aku adalah anaknya, janin yang dilahirkan
dengan serpihan keringatnya.
Aku kembali terbang. Bergabung dengan burung-burung lain
yang menyukai warna buluku. Di pohon kapuk yang dianggap keramat, aku
bersuka-ria. Burung betina yang genit menggodaku. Terkadang melempar senyum,
kadang hanya mengerling, agar aku mengejarnya untuk kusenggamai berkali-kali.
Ah! Burung!
Saat burung-burung betina mengelilingiku, tiba-tiba datang
kaum pejantan hendak menerkam. Tapi burung betina yang lagi libidonya mengiang
diubun-ubunnya menyambutnya dan meredam amarahnya, lalu bercumbu-ria bergantian
di sela-sela dedaunan kapuk yang rimbun. Aku diajak ikut serta. Aku hanya
menggeleng sambil bersiul-siul mengintip dari celah-celah setiap adegan yang
menegangkan protoplasma yang kian lama menggeliat di sekujur pinggangku. Aku
tahu, apa itu artinya! Tapi, aku tak mau melakukannya. Aku malu! Aku burung
pemalu.
Terdengar ibu memanggilku kembali. Aku datang. Bertengger
di kepalanya yang sudah disisir, “Belikan aku Rinso!” Ibu berseru-seru sambil
mengusirku berkali-kali agar tak hinggap di kepalanya.
Aku mengambil uang di tangannya yang masih berlepot busa
karena belum rampung mencuci baju seluruh keluarga. Aku segera terbang, dan
melempar uang seribu di hadapan si nyonya toko. Aku melesat menyambar renso
lalu pergi sambil meninggalkan siul indah di daun telinganya. Sebelum pergi, si
nyonya toko yang feminin berusaha menangkapku. Aku melejit. Si tuan toko
semakin garang. Gairahnya meluap serupa kuda yang berahinya membara.
Di depan ibu, aku kembali melempar perintahnya, berupa
rinso pesanannya, dan segera terbang kembali ke pohon kapuk menemui sekawanan
burung yang lagi memadu asmara tak berjeda. Menjadi burung, bebasnya luar
biasa. Bisa terbang kemana saja. Tak perlu repot membayar angkot.
Ahai! Akulah burung. Penjelma paling ajaib dari bangsa
manusia. Dikutuk raja burung yang murka. Aku benar-benar merdeka. Tak ada
undang-undang yang menjeratku. Tak wajib membayar pajak pada penguasa. Tugasku
hanya bersiul pada waktu-waktu tertentu sebagaimana Tuhan sematkan pada
instingku.
Pagi-pagi sekali, sebelum manusia terjaga dari nyenyaknya,
aku sudah bersiul indah memuji keagungan Tuhan. Lalu, ketika manusia sudah
terjaga aku menghibur manusia dengan lagu termerdu. Biasanya, manusia menjadi
pesong setelah mendengar suaraku. Mereka bagai terkena tenun pengasihan yang
melumpuhkan saraf-sarafnya. Di kepalanya, hanya ada suara indahku. Mereka
mabuk! Mereka kasmaran. Mereka memburuku!
Tiba-tiba aku kasihan pada burung-burung yang dikurung
ayahku. Mereka pasti ingin bebas sepertiku yang mengepakkan sayap sambil
menciap-ciap. Maka, atas nama perasaan senasib dan sepenanggungan, aku segera
membuka gerendel dan membiarkan pintunya terbuka lebar. Melihat aku berulah,
burung-burung piaraan ayahku nampak ragu melewati pintu. Aku hanya mengerjapkan
mata. Memberi sinyal kemerdekaannya! Lalu, mereka pergi entah kemana?
Ibu yang menyaksikan kelakuanku tak mau perduli. Mungkin
ibu sudah tidak sanggup memberi makan segerombolan burung-burung yang
dipelihara ayah. Dan, ibu baru terkejut saat semua burung di sangkarnya
benar-benar lenyap. Ibu seperti ketakutan. Takut didamprat ayah yang lebih
mencintai burungnya dibanding dirinya.
Tanpa perduli dengan rasa kaget yang menyelimuti wajahnya,
aku segera ikut terbang tinggi. Tapi, aku tak bisa pergi jauh dari ibu. Cukup
pohon kapuk tempatku bertengger atau sejauh suara ibu memantul. Di situlah aku
mengepakkan sayap. Dan benar! Tak lama setelah burung-burung pergi, ibu memanggil-manggil
namaku.
“Nuuun ....!” serunya. Memantul ke mana-mana.
Aku segera datang. Menemuinya dan hinggap kembali di
kepalanya. Tapi setiap kali aku datang, ibu belum mengerti bahwa aku adalah
anaknya. Ibu masih saja mengusirku setiap kali kepala itu kuhinggapi. Ah, ibu!
“Belikan aku beras satu kilooo ...!” serunya bertalu-talu.
Aku kaget bukan
kepalang. Bagaimana mungkin tubuh kecilku bisa mengangkat beras sekilo! Aku
memutar otak. Sejumput ide diselipkan oleh Tuhanku. Segera saja aku menyambar
uang di tangan ibu. Aku melambung ke udara tinggi-tinggi. Ibu melihatku dengan
matanya yang mendelik. Aku bersiul-siul dan nyaris seantero tanah air
mendengarnya. Tidak berapa lama setelah aku hinggap di pohon kapuk di belakang
rumah, puluhan bahkan ratusan burung menghampiriku. Mereka bertanya-tanya
kepadaku.
“Apa gerangan yang terjadi, wahai pahlawanku?” tanya salah
satu burung yang pernah kubebaskan dari penjara ayahku!
“Aku butuh batuan kalian ...,” jawabku, sambil memasang
wajah sedih seperti menanggung beban teramat berat.
“Apakah itu?” tanya yang lain.
“Bantu aku mengangkut beras!” sahutku.
“Di manakah itu?” tanya mereka.
“Di toko sebelah sana,” jawabku sambil menunjukkan sebuah
toko yang dijaga seorang tante muda yang masih binal.
“Bagaimana kalau kita ditangkap lalu digoreng?”
“Kita goda penjaga toko itu. Sekelompok burung bertengger
dan bersiul-siul indah di samping rumahnya hingga si penjaga meninggalkan
tokonya. Sekelompok yang lain segera mengulak beras dengan paruhnya. Lalu segera
dibawa pergi, mengikuti jejakku.
Tanpa banyak bacot,
sekawanan burung segera melaksanakan petunjukku. Mereka beranjak dari pohon
kapuk. Terbang bergerombol sambil bersiul-siul dendangkan orkestra dari mozaik
tanpa rupa, hingga akhirnya menggoda gerombolan manusia yang terlihat melata
dari ketinggian lagit.
Sekejap saja, misiku
berhasil dan membuat si penjaga toko terkesima hingga terlupa kalau berasanya
telah kami bawa. Tapi, kami tidak mencuri. Kami membayarnya dengan kepingan
yang ibu berikan kepadaku. Ketika si penjaga kembali ke toko, aku memberikan
uang dengan paruhku. Si penjaga terkaget. Mulutnya tak kunjung terkatup. Tapi,
sebelum niat busuknya meluap untuk menangkapku. Aku segera terbang.
Melayang-layang di atap rumahku, dan beras telah terhidang di depan ibu.
Ibu terperangah.
Seperti baru tersadar bahwa burung-burung yang selama ini di penjara telah
membalas kebaikannya. Membalas budi baiknya yang memberi makan selama
bertahun-tahun. Burung-burung itu sama sekali tak menaruh dendam kesumat, meski
terkekang di kawat besi. Mata ibu terpana menyaksikan kami yang berjumlah
ratusan terbang ke pohon kapuk yang rimbun.
Halaman rumah yang riuh
kembali sunyi. Kami ngumpet sambil bercerita kelakuan penjaga toko yang berubah
menjadi bego saat mengangkut beras. Aku termenung sendirian di ujung pohon
kapuk sambil menikmati ayunan rantingnya yang melena rasa. Tiba-tiba saja aku
tergeragap mendengar suara tak asing yang berderai-derai dari rumah.
Ayah telah datang dari
sebrang menjual beberapa anak burung pada kaum tengkulak. Suaranya yang kasar
seperti mendamprat ibu habis-habisan. Pertengkaran hebat telah terjadi. Aku
sudah menduga bahwa ayah akan murka.
Segera saja aku terbang
mengintip. Apa gerangan yang terjadi pada ibu. Ternyata benar. Ayah murka
besar.
“Siapa yang melepas
burung-burung itu!” bentaknya seperti kerasukan demit yang haus sesajen.
Ibu hanya diam serupa orang bersalah
yang tak berdaya. Ia duduk bersimpuh di depan tomang[1]
sambil menanak beras yang baru saja aku beli.
“Kalau tidak menjual
burung-burung itu, dari mana kita akan membayar utang!” bentaknya sambil
mencari-cari burungnya.
Teman-temanku ngumpet
di atas ketinggian pohon kapuk. Mereka ketakutan kalau-kalau ayah menemukannya
dan ngatapel tubuhnya. Aku juga bergidik kalau sampai ayah mengambil senjata
pamungkasnya itu. Ah, ayah selalu sangar bila burungnya diganggu, apalagi
dicuri, lebih-lebih lenyap tanpa jejak.
Kulihat ayah mulai
kalap, ketika tak menemukan seekor burung pun. Mukanya yang hitam bertambah
legam, dan lagi-lagi ibu menjadi pelampiasan amarahnya. Nyaris tangannya yang kasar
bagai baja itu menampar pipi ibu yang lembut. Aku nyaris menjerit. Beruntung
paruhku tertekan lubang kecil tempatku mengintip.
Aku segera mengepakkan
sayap menuju pohon kapuk. Teman-temanku termangu dengan wajah tegang.
“Apa yang terjadi?”
“Tuanmu, murka!” jawabku,
tanpa membuka identitas bahwa aku adalah burung kutukan.
“Apakah dia memukuli
istrinya?”
“Nyaris!” jawabku
singkat, karena perasaanku mulai tertekan.
“Apakah dia mengambil
senjata pamungkasnya?”
“Sepertinya akan
begitu!” seruku.
“Cilaka![2]”
seru yang lain.
Kubiarkan
saja mereka gaduh dengan senjata ayahku yang ampuh: katapel. Ayah selalu
menggunakan senjat itu untuk memburu burung-burung liar yang hendak
ditangkapnya. Dahulu, aku juga menggunakan senjata itu untuk berburu.
Diam-diam aku mulai
merasa berdosa pada ibu, karena dibentak-bentak ayah yang lebih mencintai
burungnya. Aku menjadi buntu. Tak menemukan jalan keluar untuk mengatasi
masalah itu. Semua itu gara-gara aku yang membebaskan semua burung.
Sekali lagi terdengar
suara ayah yang mulai kalut. Suaranya menggelegar bagai halilintar. Rupanya,
ayah murka lagi. Kali ini, suara ibu terdengar menjerit-jerit. Aku segera
bergegas mengitip kelakuan ayah yang kalap.
Aku kaget bukan
kepalang. Ayah membawa kapak bergigi tajam menuju pohon kapuk yang kami
singgahi.
“Jangan tebang pohon
kapuk itu!” seru ibu setengah menjerit.
“Pohon kapuk itu
mungkin bisa melunasi hutang-hutang kita pada kaum rentenir!”
“Jangaaan! Itu punyanya
Nun. Jangan kau jual sebelum minta izinnya!” seru ibu meratap-ratap.
“Nuuun ...!” jeritnya
sambil memanggil-manggil namaku.
Ayah mulai mengayunkan
kapaknya yang akan menjadi bencana bagi kaumku. Haruskah aku membuka rahasiaku?
Oh! Rasanya tidak mungkin! Ayah tidak akan percaya sama sekali, bahwa aku
adalah darah dagingnya yang telah dikutuk menjadi burung indah!
Aku harus segera
menghentikan kapak ayah. Gigi kapak tak boleh menyentuh pohon kapuk yang sudah
lama menyimpan sumber mata air bagi kehidupan makhluk alam. Hanya tinggal pohon
kapuk raksasa ini yang menjadi harapan tersimpannya kristal-kristal air. Kalau
sampai ditebang, boleh jadi erosi akan melanda tanpa henti. Bisa-bisa kaumku
akan mati.
Aku melonjak terbang
rendah seraya dendangkan suara merduku yang mampu menggoda kuping ayah. Seketika
kapak terhenti. Ayah terkesima melihatku melenggang dengan bulu-bulu halus yang
mampu meredakan angkuhnya.
Namun sial! Ayah
bergegas menyelinap ke dalam rumah dan segera keluar membawa katapel dan
dibidikkan ke tubuhku yang berputar-putar di atas kepalanya. Sebuah batu keras
menghantam lambungku. Seketika itu aku terpelanting berdebam tak jauh dari kaki
ayah. Aku berusaha bangkit dan hendak terbang. Tapi tak berdaya. Dadaku terasa
sesak. Aku menggelepar memanggil-mangil ibu.
“Tolooong ....!”
Aku terbangun. Tangan
ibu meraba-raba ubun-ubunku.
“Bangun, Nak ...! Kamu
bermimpi buruk?”
“Jangan lupa membaca
doa kalau mau tidur. Setan selalu menghantui hidup manusia, Nak ...!”
“Iya, Bu ...!”
“Oh, mimpi!”
Sumenep,
Pebruari 2014

0 Comments