Aktivitas semacam itu tidak hanya
ditekuni oleh para orangtua, tetapi anak-anak mereka yang seharusnya
sekolah ikut dilibatkan untuk mendapatkan penghasilan yang mengepulkan
dapurnya. Namun, di sela-sela aktivitas yang berkeluh kesah itu, seorang
anak kecil bernama Rubiah melakukan pemberontakan terhadap kegiatan
orangtuanya yang sering mengajak dengan paksa untuk mengemis di
kota-kota. Rubiah dianggap memberikan nilai tambah bagi penghasilan
orangtuanya, karena penampilannya yang membuat orang iba menatap raut
mukanya.
Rubiah lebih memilih untuk sekolah
bersama teman-temannya. Ia tak ingin menderita kepanasan atau kedinginan
di jalan raya, atau malah dihardik orang saat menganggu si tuan. Rubiah
ingin punya prestasi, dan prestasinya kelak diharapkan akan mengubah
perilaku orangtuanya yang peminta. Tetapi, Rubiah selalu mendapatkan
perlakuan tidak nyaman dari ayahnya, dan ancaman selalu mengintai
hidupnya. Rubiah bergeming. Ia tetap saja tidak mau ikut ayahnya
mengemis. Rubiah lebih memilih sekolah, setelah dibantu penyakit yang
mendera badannya.
Seorang guru muda, bernama Yuliawati
Evandiari sangat perhatian kepada Rubiah dan teman-temannya untuk
belajar. Maka, tak ayal, akhirnya Rubiah seperti orang-orang bermain
petak umpet dengan ayahnya yang bersikeras untuk mengajaknya mengemis.
Rubiah tetap tidak mau, hingga pada waktu yang dijanjikan ia menjadi
bintang yang berhasil menyabet lomba bergengsi di kota. Bukan main
bahagianya sekolah yang telah mendidiknya, termasuk ibunya yang selama
ini hanya kuasa menangis saat keganasan suaminya menyambar mukanya.
Rubiah mendapat penghargaan,
penghormatan dan uang saku yang cukup untuk biaya sekolahnya sendiri,
tanpa harus memakan jerih keringat orangtuanya. Namun kebahagian Rubiah
dan ibunya tak berselang lama, karena musibah tiba-tiba menenggelamkan
dirinya dalam simbah air mata saat pulang dari kemenangannya. Maka,
jadilah suka berganti duka, dan si anak kecil itu terus menyuri
hidupnya.
Tangan mungil Rubiah gemetar mengusap darah yang mengucur dari kepala ayahnya. Buku Tabanas di tangannya ikut berlumur darah. Pupil matanya yang berkilatan bagai permata ruby, kian nanar. Mata itu memerah, seolah menjelma batu permata indah. Serupa batu ruby yang banyak disukai para kolektor dari berbagai negeri. (halaman 107).
Musibah
yang menimpa Rubiah datangnya tak pernah diterka. Derai airmatanya
adalah duka seluruh orang-orang yang telah membesarkannya, yang telah
mencintainya.
Novel
tipis ini, mengandung sari-sari hikmah bagi anak-anak, para orangtua,
guru, dan bagi semua orang yang senang mengambil pelajaran dari semua
peristiwa. Selamat membaca, “Gadis Bermata Ruby“
Data Buku:
Data Buku:
Judul: Gadis Bermata Ruby
Penulis: Alfin Nuha
Penerbit: Pangaro Media Utama Yogyakarta
Cetakan, 1 Juli 2014
Tebal: 112
Harga: 30.000

0 Comments