Suntuk dengan kondisi Tanah Raja yang monoton, anak-anak Tanah Raja melakukan gerakan perubahan. Mulai
gerakan mengubah kepemimpinan, hingga tatanan sosial yang dianggapnya pincang
dan tidak menyejahterakan. Usaha mereka mendapat perlawanan yang cukup sengit
dari kaum borjuis yang selama ini bertakhta, dan memeras. Tetapi, mereka
pantang menyerah. Pantang kalah.
Anak-anak Tanah Raja bersatu padu, bahu-membahu
demi tegaknya keadilan, dan perubahan
peradaban. Mereka
sudah muak dengan tingkah kaum borjuis yang hidupnya selalu nicis di atas penderitaan
rakyat yang terus dikikis. Mereka memvonis penguasa Tanah Raja sebagai biang kerusakan,
pemeras keringat rakyat, pemangsa desalinasi, lintah darat pengisap aspal, dan
kepala blater yang dilegalkan.
Novel Anak-Anak
Revolusi Tanah Raja sangat inspiratif, bagi siapa pun yang memimpikan masa depan lebih bercahaya
dan gemilang. Usaha mereka
patut menjadi teladan untuk dititahkan.
Tuhan telah menyelipkan keberanian kepada
anak-anak Tanah Raja, untuk mengubah ketimpangan yang
bertentangan dengan kebenaran, meski ancaman kekerasan mengintai dari setiap
lekuk waktu yang remang.
Demi keadilan bagi seluruh penduduk rakyat Tanah Raja, mereka terus bergerak tanpa peduli dengan bahaya yang mengancam keselamatannya. Mereka rela berkalang tanah, daripada
hidup menjadi jongos kaum durjana.
Lebih baik berperang daripada menjadi sahaya kaum borjuis.
Begitulah, pekik jiwa mereka yang
menghendaki tegaknya peradaban yang dipenuhi nilai-nilai kebenaran, meski
akhirnya revolusi yang mereka perjuangkan menelan tumbal nyawa-nyawa. Revolusi, ternyata tidak murah.
Bagaimana
perjuangan mereka? Silakan baca novel ini hingga tuntas, seraya menahan degup
jantung yang mendebarkan.
----------------------------------
Endorsmen
Nun adalah
sosok penulis yang gelisah dengan alam sekitarnya. Melalui novel Anak-Anak
Revolusi, ia berusaha menyajikan sisi lain yang dimiliki bangsa ini.
Membaca novel yang sarat konflik ini, kita akan digiring pada sebuah
pertempuran otak yang cukup dahsyat.
-Suhairi,
Kolomnis, dan mantan ketua FLP Cabang Jember
Anak-Anak
Revolusi adalah novel
pemberontakan terhadap peradaban yang pincang. Novel beraroma pergerakan ini
memiliki diksi yang luar biasa! Meliuk, kadang menukik indah, sekaligus
menyimpan pencerahan bagi pembacanya.
-Evi Rakmawati,
Guru dan Ketua FLP Cabang Mojokerto 2006-2008
Perubahan
adalah niscaya dan sunnatullah. Novel ini menceritakan kisah perubahan
sosial dari generasi muda yang ingin menciptakan dunia yang lebih
baik—setidaknya dalam perspektif mereka. Kita butuh banyak perspektif untuk
memperkaya khazanah peradaban bangsa kita.
-Yanuardi
Syukur, Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun Ternate dan
Penulis Buku
Bila sastra
adalah perkawinan antara fakta dan imajinasi, maka Anak-Anak Revolusi
adalah sebuah representasi.
-Asy’ari
Khatib, Penerjemah di Penerbit Serambi
Jujur, novel
ini memancing emosi, menggetarkan hati dan membangun semangat. Cerita anak
pulau yang berusaha melawan tirani penguasa biadab itu menjadi rentetan sejarah
yang harus dibaca. Karya Mas Nun ini adalah manifesto sebuah cerita perjuangan
anak alam.
-Maufikurrahman
Surahman, Penulis Novel Ciuman Terakhir Ayah
Membaca karya
sahabatku, Nun, adalah pantai untuk mulai menyelami lautan pikiran-pikirannya.
Tanpa sadar kita pun terdampar di pulau-pulau perasaannya.
-Syukur A.
Mirhan, Penyair
Jika Andrea
Hirata dengan Laskar Pelangi-nya menggugah kesadaran bangsa tentang
dunia pendidikan dan Ahmad Fuadi dengan Negeri Lima Menara-nya yang
memupuk tekad dan cita-cita anak bangsa, maka Anak-Anak Revolusi karya
Nun Urnoto hadir di hadapan kita pada saat yang tepat, saat para pemuda sudah
kehilangan semangatnya untuk mengawal reformasi.
-Rafif Amir
Ahnaf, Ketua FLP Sidoarjo 2012-2013
Novel
pemberontakan terhadap kebiadaban.
-Abdur Rahem,
Kontributor RCTI

0 Comments