Lima penyair yang sajaknya terpahat bagai
prasasti dalam buku setebal 168 ini patut mendapat apresiasi dari para penyair,
kritikus, dan pembaca luas yang mencintai puisi, apa pun bentuk dan wajah puisi
itu sendiri. Puisi-puisi yang termaktub di dalamnya hampir keseluruhan berisi
kritik terhadap vonis diskriminasi dalam kehidupan nyata. Para penyairnya
menyertakan data-data valid pada setiap metafor sajaknya dalam bentuk catatan
kaki. Artinya, puisi disentuh tidak hanya dalam dunia khayal belaka, seperti
yang selama ini menjadi kenyataan tak terhindarkan.
Lima penyair di dalam buku ini, sementara
waktu bisa disebut sebagai orang-orang yang responsif terhadap wacana baru
kepenyairan tanah air dari sudut pandang Denny JA, yang dianggap penggagas
penulisan puisi esai. Tetapi, tidak bisa disebut sebagai pengikut Denny JA,
karena keyakinannya sebagai penyair tidak dibatasi oleh ajara-ajaran penulisan
puisi manapun.
Lima penyair di dalam antologi ini berhasil
memotret kenyataan di sekelilingnya menjadi sumber sajak yang penuh makna untuk
disampaikan kepada para pembaca, dan pada setiap catatan kakinya ada sumber
mata cinta tempat fakta berbicara.
Pada bagaian awal Ahmad Ijazi menulis
puisinya dengan judul GESTAPU, yang berkisah tentang seorang gerwani dari
Blitar bernama Putmainah. Sebuah kisah diskriminatif terhadap perlakuan
sewenang-wenang penguasa pada masanya. Judul puisinya berikutnya berjudul
Pengakuan Jenderal Madrictsch yang ditulis oleh Faried Januar dengan latar
Jerman.
Karya berikutnya ditulis oleh Nun Urnoto
El Banbary dengan judul Dendang Bujang Tanah Seberang, yang berkisah seorang
pemuda untuk memakmurkan tanah kelahirannya yang dilanda kekeringan. Sementara
sajak berikutnya ditulis oleh Sri Wintala Achmad dengan Elegi Cinta Putri
Pembayun yang juga berkisah diskriminasi dalam sejarah tanah air pada masa
pemerintahan Mataram. Ni Hoekong Di Muka Raad Van Justitie karyo Wendoko yang
juga menulis puisi esai sejarah.
Lepas dari kotak-kotak pendapat yang
belakangan menjadi sedikit memanas di kalangan masyarakat penyair yang masih
awam polemik, puisi esai ini cukup menjadi bagian yang menghidupkan kesusastraan
tanah air, dengan catatan para penyair dan pemerhati sastra memiliki kearifan
berpikir.
Antologi ini layak jadi referensi atau
sebagai dokumen sejarah yang barangkali kelak dibutuhkan sebagai kajian
intelektual generasi berikutnya.
Data Buku:
Judul: Rantau Cinta Rantau Sejarah
Penerbit: Jurnal sajak
Editor: Jamal D. Rahman
Cetakan: 1 April 2014 Depok

0 Comments