![]() |
| Penulis Abadikan Taman Adi Pura |
Melihat warna merah mencolok yang
bertebaran di seluruh taman, saya segera teringat bahwa sebentar lagi pemilu
akan segera tiba. Saya berkeyakinan, bahwa itu adalah ulah pemerintah. Partai politik
tidak mungkin berani tanpa rekomendasi dari pemerintah yang punya otoritas
mengelola Taman Adipura secara profesional.
Tapi kenapa harus merah? Bukankah
Taman Adipura sejak lahir warnanya sudah hijau? Penguasa tertingginya juga
hijau? (semoga bukan kolor ijau) Siapa sebenarnya aktor tidak intelek yang
telah berani merenggut keperawanan tamanku yang asri, dan berani-beraninya
menginjak penguasa yang sebenarnya juga suka warna hijau? Apakah sang penguasa
sudah dirasuki setan merah, lalu lupa warna hijau yang dahulu dibelanya
setangah mati? Atau jangan-jangan sang penguasa sudah menjadi boneka yang tak
berdaya. Atau malah tengah keasyikan bermain boneka panda yang dibelinya dari
pulau tetangga?
Sebagai rakyat kecil, saya menjadi
bego memaknai kehendak pemimpin saya—yang saya kira juga tertular bego yang
melanda diri saya—atau juga tertular bego rakyatnya yang terlanjur dianggap
bego dengan warna seribu merah di taman itu. Sungguh saya bingung!
Saya mulai merasa hawa panas Taman
Adipura menyergap sekujur tubuh. Wajah politikus yang tiba-tiba muncul dari
tengah-tengah taman Adipura datang menyelinap ke dalam benak saya, membawa cat
merah agar saya mengecat becak yang baru saja saya tumpangi. Sial nian saya
ini! Politikus gentayang di Taman Rakyat yang sudah tak lagi perawan dan
menyemburkan api virus yang nyaris mengenai wajah saya.
Siapa yang telah memerintahkan Taman
Adipura dikuasa Setan Merah? Lihatlah! Setan merah mulai berkampanye dengan
alihrupa serupa bunga-bunga, dan sama-samar menjelma menjadi batang-batang kayu
yang tumbuh rindang di sepanjang gang kecil yang lengang, karena rakyat mului
ketakutan berkunjung, kecuali pada malam-malam gelap, karena si Merah tak terlalu nampak ke
permukaan taman yang pengap.
Waduh, tadinya saya mau menulis esai
kritik tentang taman, kok malah jadi cerita horor seperti ini? Jangan-jangan
saya mulai kerasukan Setan Merah yang diam sudah menjangkit di dadaku.
Aku berlindung dari godaan setan merah yang terkutuk itu.
Jangan sampai kota kita, Taman
Adipura tercinta atau bahkan Masjid Jami’ yang berdiri di dekatnya kerasukan
juga. Mari, jaga anak-anak kita, rumah kita, tetumbuhan yang di tanam di depan
rumah, lembu-lembu di kadang atau apa saja yang kita punya, dari gangguan Setan
Merah yang sudah merampas fasilitas negera, fasilitas tempat kita rehat saat
penat.
Sesungguhnya, kita telah berdosa
membiarkan taman yang kita cinta berabad-abad lamanya dirampas dan dicoreng
seenaknya saja. Bantulah sang penguasa yang konon kata orang-orang sudah
menjadi boneka setan merah. Bergeraklah! Sebelum masji Jami’ menjadi tumbal
berikutnya.
Kita tak buta warna bukan? Jadi,
jangan biarkan mereka menginjak-nginjak mata kita, karena sesungguhnya kita tak
buta. Jangan katakan, warna dan taman hanya persoalan sepele, sebab nanti
mereka akan lebih bernafsu untuk menguasai, saat kita merelakan diri untuk
diperkosa berkali-kali.
Setiap penindasan, sekecil apa pun, harus di lawan! Mungkin hanya kemampuan
macam itu yang nanti di hadapan Tuhan, kita haturkan! Mungkin suara penolakan
kecil kita pada kezaliman membebaskan diri kita dari sengatan neraka jahanam.
Sekali lagi, jangan relakan kehormatan kita diinjak dengan warna-warna yang
membodohkan.
Jangan lupa, larangan penggunaan
fasilitas negara tertuang dalam Pasal-Pasal 84 ayat (1) huruf h UU No. 10 Tahun
2008 tentang Pemilu Legislatif, Pasal 3 jo Pasal 21 PP No. 14 Tahun 2009, Pasal
26 ayat (1) huruf h Peraturan KPU No. 19 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan
Kampanye Pemilu Anggota DPR, DPRD, DPD.
Lawan,
Wahai Anak-Anak Revolusi!

0 Comments