Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana halnya ia telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu,
agar kamu menjadi orang-orang bertakwa ”. (Al-Baqarah: 183).
Di bulan inilah,
Tuhan Yang Maha Bijaksana memanjakan orang-orang beriman untuk meraih
pahala yang meruah, melebihi bulan-bulan lainnya. Terlebih lagi, apabila
kita bersua dengan malam Lailatul Qadar, kita akan mendapat pahala
bagaikan beribadah seribu bulan. Sungguh pemandangan spritual yang
sangat mencengangkan. Maka, sudah sewajarnya kita memanfaatkan momen puasa
semaksimal mungkin.
Puasa
merupakan ibadah wajib yang memerlukan niat ikhlas, baik lahir maupun
batin agar bisa diterima dan menjadi kesalehan sosial yang bisa
dirasakan oleh masyarakat sekitarnya. Puasa tidak hanya membutuhkan laku
fisik, tetapi juga laku batin untuk mengasah hati, rasa, nurani, dalam
menyikapi segala persoalan dalam setiap detak kehidupan yang kian hari
terasa memilukan.
Puasa
(shaum) merupakan sarana untuk menahan diri dari nafsu-nafsu jasmaniah
dan memutuskan hasrat-hasrat duniawi yang muncul dari gagasan setan dan
sahabat-sahabatnya, memosisikan diri sebagai orang yang sakit yang tidak
menginginkan makanan maupun minuman dan mengharapkan kesembuhan dari
penyakit kesalahan. Berpuasa juga bisa membunuh hasrat diri dari nafsu
keserakahan, dan dari situ pula akan muncul sifat dermawan sebagai
terjemahan nilai-nilai positif dari ibadah puasa.
Puasa
bukanlah ritual semata, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga,
puasa tidak hanya kewajiban yang hampa makna. Akan tetapi puasa adalah
instrumen untuk menyucikan pikiran manusia yang bergelimang dosa. Puasa
adalah medium untuk saling merasakan penderitaan diantara sesama. Maka
sangat ironis, ketika seorang muslim yang mengklaim dirinya berpuasa
tetapi masih tidak memiliki kepedulian terhadap sesama. Bulan Ramadlan
yang penuh berkah, ampunan, dan pahala ini tidak akan ada artinya
apa-apa apabila tidak diaktualisasikan dalam bentuk kesalehan sosial.
Dalam
konteks sehari-hari, puasa bisa menumbuhkan rasa solidaritas sosial
karena orang yang sungguh-sungguh berpuasa bisa merasakan bagaimana rasa
lapar dan dahaganya orang-orang miskin, orang-oang yang kelaparan,
orang-orang yang kekurangan sehingga kenyataan pahit (kemiskinan) yang
banyak bertebaran di bumi pertiwi ini lambat laun bisa teratasi. Andai
kata umat islam terbesar yang ada di Indonesia ini mampu melaksanakan
puasa dengan khusuk, dan mampu mengimplementasikan dalam bentuk
kesolehan publik maka tidak mungkin ada kemiskinan, perampokan,
penjarahan, koropsi, dan segala macam ketimpangan sosial.
Berpuasa
di era yang super sibuk kerja ini memerlukan kesabaran ekstra. Karena
komplikasi godaan begitu menggiurkan dan sangat paradoks dengan
nilai-nilai pelaksanaan puasa. Pertama, bulan Ramadlan memberi
kesempatan kepada orang-orang Islam untuk mendapat pahala
sebanyak-banyaknya. Kedua, ketika kita berusaha khusuk menjalankan
ibadah puasa, kita juga di kepung oleh budaya kapitalisme yang tak
henti-hentinya merayu dan menggoda kita. Iklan-iklan promosi, baik
dimedia elektronik maupun media cetak, kita seolah dibujuk, dirayu,
dihipnotis dengan tawaran produk-produk yang menggiurkan. Termasuk
hiburan-hiburan yang kadang mengandung unsur pornografi, erotisme,
sensualitas dan hiburan yang menggoda lainnya.
Selain
itu puasa merupakan ibadah yang unik, kenapa? Karena puasa merupakan
rahasia antara Tuhan dan orang yang berpuasa itu sendiri, orang lain
tidak pernah tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak,
atau hanya sekedar berpura-pura saja. Bukankah orang yang berpuasa dapat
bersembunyi untuk makan, dan minum, atau hal – hal yang membatalkan
puasa.
Ada
hadist nabi saw. yang perlu direnungi, “ Banyak diantara orang-orang
yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar
dan dahaga.” Bila dipahami secara substansial, hadist tersebut seolah
menegaskan bahwa lapar dan dahaga bukanlah substansi dari puasa itu
sendiri. Hakekat puasa itu sendiri pada hakekatnya lebih menekankan pada
aspek ketakwaan, sebagaimana firman Allah dalan surah Al-Baqarah ayat
183 di atas. Takwa dalam arti, orang yang berpuasa secara ihklas mau
menerjemahkan pesan moral yang terkandung di dalam ibadah puasa
tersebut.
Sebagai
muslim, berpuasa tidak hanya sebatas formalitas belaka, tetapi berpuasa
secara substantif berarti meninggalkan pikiran, perasaan dan kehendak
hati yang mengajak kepada dosa, kemaksiatan, kemungkaran, dan
sejenisnya. Apabila kita mampu berpuasa dengan meninggalkan hal-hal
tersebut di atas, maka insya Allah kita akan mampu membendung berbagai
bentuk kemungkaran yang kerap kali menggoda libido kita.
Di
tengah kondisi zaman seperti ini, seorang muslim harus pandai-pandai
menyikapi keadaan, memiliki kesadaran moral, kritis terhadap berbagai
westernisasi, dan tidak mudah terkena bujuk – rayu oleh berbagai macam
produk yang bisa membatalkan pahala puasa kita. Sikap kritis seorang
muslim tidak akan mudah dipecundangi oleh orang-orang yang mau mengambil
keuntungan dari memon bulan puasa ini.
Puasa
sebagai benteng yang kokoh bisa melatih kita untuk senantiasa bisa
mengendalikan diri dalam menghadapi problem kehidupan. Di samping itu
puasa juga bisa menjadi instrumen untuk melakukan pendekatan spritual
kepada Allah swt, sekaligus sebagai wahana untuk menolak berbagai
bencana yang akhir-akhir ini sering melanda negeri ini.
Dari
sisi medis pun, puasa juga bermanfaat untuk mengembalikan organ-organ
tubuh agar kembali bugar karena terlalu dipenuhi kerja-kerja biologis,
dan metabolisme tubuh kembali normal. Seperti mencerna makanan yang
tiada henti kita makan dalam porsi yang sangat banyak. Dengan kata lain,
puasa memberi istirahat kepada sebagian organ-organ tubuh untuk tidak
bekerja.
Pendeknya,
puasa tidak akan menjadikan mu’min sebagai manusia kapitalis, puasa
tidak akan menjadikan muslim sebagai manusia kanibalis yang tega
membiarkan penderitaan sesamanya. Akan tetapi puasa akan memberikan
pencerahan spritual yang berjangka panjang. Disamping itu, puasa juga
bisa menjadikan kesalehan individu seorang mukmin, menjadi kesalehan
sosial yang bermanfaat bagi alam sekitarnya. “Khoirunnas ‘Anfa’uhum
Linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia
lainnya). Semoga kita menjadi Shoimin yang berguna. Wallahu’alam.
Sumenep, 20 September 2006
0 Comments